Manado, GlobalNews Sulut- Cap Go Meh (Guan Xiao) merupakan puncak perayaan Imlek.
Sejarah Cap Go Meh memiliki akar sejarah yang sangat kuat dari tradisi peradaban Tiongkok kuno. Tradisi ini diperkirakan sudah bermula sejak era Dinasti Han, yakni sekitar tahun 206 Sebelum Masehi hingga 220 Masehi.
Pada masa-masa awalnya, ritual ini dilakukan murni sebagai bentuk upacara penghormatan sakral kepada Dewa Thai Yi. Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada era keemasan Dinasti Tang, festival ini berkembang dan semakin populer di kalangan masyarakat luas.
Manado, Global News Sulut
Pada tahun 2026 perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili jatuh pada tanggal 17 Februari 2026, jika dihitung tepat lima belas hari, maka perayaan Cap Go Meh 2026 jatuh pada hari Selasa, 3 Maret 2026.
Momen istimewa Cap Go Meh ini yang biasa masyarakat Sulawesi Utara dan sekitarnya lebih sering sebut Ta pi kong adalah upacara besar agama Budha Tri Dharma yang jatuh pada tanggal ke 15 bulan pertama di tahun imlek yang dilaksanakan tiap tahun yang menunjang
event pariwisata tahunan yang digelar umat Tri Dharma bersama Pemerintah Kota Manado, berlangsung meriah di kawasan pusat kota, tepatnya Kompleks Kampung Cina (03/03/2026).
sejak tengah hari Ribuan Masyarakat Manado, Tanawangko, Tomohon, Minut dan Bitung memadati jalur yang akan di lalui prosesi Cap Go Meh yaitu Jalan Walanda Maramis; Jalan DI Panjaitan dan Jalan Dr Soetomo.
Klenteng Ban Hing Kiong (BHK) Kompleks Kampung Cina Kawasan pusat kota merupakan lokasi start dan finish peserta
Guan Xiao
Sebanyak 14 Kioh, 10 Tansin dari 10 tempat Ibadah Tri Darma (Klenteng) di Kota Manado mengambil bagian dalam perayaan Cap Go Meh.
musik bambu, tarian tradisional Kabasaran, dan Penampilan murid-murid SMP Negeri 23 Manado yang merupakan sekolah rakyak, Arak-arakan barongsai dan tarian naga atau liong, pasukan berkuda yang disebut tentara langit, Iring-iringan kendaraan hias bertema dewa-dewi, Simbol-simbol keyakinan umat Tri Dharma seperti Dewi Kwan Im, Naza, hingga Kaisar Langit menjadi tontonan primadona ditampilkan mengawali kegiatan tersebut.
Pertunjukan yang menguji nyali seperti ritual yang di peragakan oleh para tangsin berupa aksi tusuk mulut dan melengankan pedang di belakang punggung di atas 14 kioh atau kereta. Meski terlihat ekstrem, atraksi tersebut tidak menimbulkan luka pada tubuh mereka.
Atraksi lincah yang di peragakan ini diyakini oleh masyarakat mampu memancarkan energi negatif dan mendatangkan hoki.
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Sevanus yang hadir dalam perayaan Cap Go Meh (Guan Xiao) menyampaikan merasa terhormat dan baru pertama’ kali memberikan sambutan. Gubernur juga mengucapkan selamat merayakan Cap Go Meh (Guan Xiao) tahun 2026, 2577 Kongzili dan mengucapkan terima kasih kepada para peserta atas partisipasi dan keikut serta dalam memeriahkan Cap Go Meh.
Tuhan memberkati di beri kekuatan, kesehatan karena dapat melaksanakan kegiatan ini dengan kemeriahan, kebahagiaan akan menyertai kita semua.
Turut hadir dalam perayaan Cap Go Meh (Guan Xiao) 2577 Kongzili Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus, S.E, Wakili Gubernur Dr. J. Victor Mailangkay, S.H., M.H, Sekda Sulut Denny Mangala, Walikota Manado Andrei Angouw Bersama Istri Irene Golda Angouw-Pinontoan, Wakil Walikota dr Richard Sualang, Forkopimda Sulut, Forkopimda Manado, Pimpinan Vertikal, Tokoh Agama, Tokoh masyarakat, Perwakilan Bank Indonesia, Hengky Wijaya.
Melihat sejarah dan perkembangannya, Cap Go Meh 2026 tidak hanya dimaknai sebagai penutup kemeriahan tahun kalender lunar saja. Rangkaian kegiatan ini merupakan sebuah pengingat yang indah mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam, mensyukuri kehidupan, dan merawat ikatan persaudaraan.
Perayaan ini membuktikan bahwa tradisi bangsa luar mampu melebur dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
(Jufry) GNS
![]()






